Filosofi Memanah
Dusunku.com - Dalam postingan ini saya kan share sebuah filosofi yang menurut saya sangat bagus sekali buat kita baca dan dijadikan sebuah renungan yang sangat bermanfaat. Karena dalam filosofi ini terkandung makna yang dalam untuk menggali potensi yang ada pada diri kita secara maksimal, tentunya sobat pun juga tidak hanya membaca saja, tapi juga perlu harus kita renungkan untuk merubah pola pikir kita untuk selalu berpikiran yang positif serta terarah seperti judul diatas Filosofi Memanah yang saya kutip dari Dunia Training. Berikut cerita Filosofi Memanah tersebut :
Alkisah, di suatu senja yang kelabu, tampak sang raja beserta rombongannya dalam perjalanan pulang ke kerajaan dari berburu di hutan. Hari itu adalah hari tersial yang sangat menjengkelkan hati karena tidak ada satu buruan pun yang berhasil dibawa pulang. Seolah-olah anak panah dan busur tidak bisa dikendalikan dengan baik seperti biasanya.
Alkisah, di suatu senja yang kelabu, tampak sang raja beserta rombongannya dalam perjalanan pulang ke kerajaan dari berburu di hutan. Hari itu adalah hari tersial yang sangat menjengkelkan hati karena tidak ada satu buruan pun yang berhasil dibawa pulang. Seolah-olah anak panah dan busur tidak bisa dikendalikan dengan baik seperti biasanya.
Setibanya di pinggir hutan, raja memutuskan
beristirahat sejenak di rumah sederhana milik seorang pemburu yang terkenal
karena kehebatannya memanah. Dengan tergopoh-gopoh, si pemburu menyambut
kedatangan raja beserta rombongannya.
Setelah berbasa-basi, tiba-tiba si pemburu
berkata, “Maaf baginda, sepertinya baginda sedang jengkel dan tidak bahagia.
Apakah hasil buruan hari ini tidak memuaskan baginda?”
Bukannya menjawab pertanyaan, sang raja malah
beranjak menghampiri sebuah busur tanpa tali yang tergeletak di sudut ruangan.
“Pemburu, kenapa busurmu tidak terpasang talinya? Apakah engkau sudah tidak
akan memanah lagi?” tanya sang raja dengan nada heran dan terkejut.
“Bukan begitu baginda, tali busur memang
sengaja hamba lepas agar busur itu bisa istirahat’. Jadi, ketika talinya hamba
pasang kembali, busur itu tetap lentur untuk melontarkan anak panahnya. Karena
berdasarkan pengalaman hamba, tali busur yang tegang terus menerus, tidak akan
bisa dipakai untuk memanah secara optimal”.
“Wah, hebat sekali pengetahuanmu! Ternyata itu
rahasia kehebatan memanahmu selama ini ya,” kata baginda.
“Memang, kami turun temurun adalah pemburu.
Dan pelajaran seperti ini sudah ada sejak dari dulu. Untuk memaksimalkan alat
berburu, kebiasaan seperti itulah yang harus hamba lakukan. Mohon maaf baginda,
masih ada pelajaran lainnya yang tidak kalah penting yang biasa kami lakukan.”
“Apa itu?” tanya baginda penasaran.
“Menjaga pikiran. Karena sehebat apapun busur
dan anak panahnya, bila pikiran kita tidak fokus, perasaan kita tidak seirama
dengan tangan, anak panah dan busur, maka hasilnya juga tidak akan maksimal
untuk bisa mencapai sasaran buruan yang kita inginkan”.
Mendengar penjelasan si pemburu, tampak sang
raja terkesima untuk beberapa saat. Tiba-tiba tawa sang raja memenuhi ruangan.
“Terima kasih sobat. Terima kasih. Hari ini rajamu mendapat pelajaran yang
sangat berharga dari seorang pemburu yang hebat.”
Setelah cukup beristirahat, raja pun
berpamitan pulang dengan perasaan gembira. Dan timbul keyakinan, lain kali
pasti akan berhasil lebih baik.
***
Nah, begitulah cerita dari Filosofi Memanah tersebut, Sungguh bukan main makna yang tersirat dari cerita itu. Jadi inti dari kandungan cerita tersebut bisa kita artikan bahwa Kita butuh keahlian dalam mengatur irama kerja
dan saat kapan kita harus beristirahat, agar keefektivitasan kerja tetap
terjaga. Dan, kemampuan (untuk) fokus dalam melakukan segala kegiatan harus
mampu kita bina dan tumbuh kembangkan.
Dan dengan kemampuan menggunakan kekuatan tadi,
tentu kita akan menjadi manusia yang efektif dalam menggeluti usaha dan pasti (hasilnya)
akan maksimal dan memuaskan. Semoga bermanfaat...

0 komentar:
Posting Komentar
Terima kasih buat sobat yang sudah memberikan komentarnya pada postingan ini